Categories
Agraria

Pendederan Benur, Solusi Jitu Cegah EMS

Penyakit EMS pada udang merontokkan produksi di negara-negara produsen udang du nia, seperti China, Vietnam, dan Thailand. Cara penanggulangannya terus dikaji pa ra ahli. Salah satunya yang cukup efektif adalah mendederkan benur dulu sampai umur tertentu sebelum ditebar ke tambak. Pentingnya pendederan benur dalam mencegah se rangan EMS disosialisasikan Fernando Castro Tale ro, pakar udang dari Epico re Bionetwork USA, pada seminar “Mencari Solusi Budidaya yang Baik dan Berkelanjutan” di Desa Purworejo, Kecamatan Pa sir Sakti, Lampung Timur, baru-baru ini. Seminar yang difasilitasi PT Behn Meyer Indonesia itu diikuti sekitar 60-an pembudidaya udang dari Lampung Timur dan Lampung Selatan, Pro vinsi Lampung. Acara di Balai Desa Pur worejo tersebut juga dihadiri Yusuf Maryanto, pimpinan PT Behn Meyer Area Lampung dan Jawa Barat dan Zainal, Sekdes Purworejo.

Produksi Mulai Pulih

Menurut Fernando, akibat serangan EMS produksi udang China yang pada 2008 mencapai 1.286.074 ton anjlok menjadi 550 ribu ton pada 2016. Tahun ini Negeri Tirai Bambu tersebut diperkirakan hanya memproduksi tak lebih dari 400 ribu ton udang.

Demikian pula Thailand yang pada 2008 memproduksi 507.500 ton, pada 2016 hanya menghasilkan 300 ribu ton. Tahun ini produksinya berangsur pulih lantaran sudah berhasil meng atasi serangan EMS. Sementara produksi Vietnam dari 381.300 ton saat 2008 anjlok tinggal 180 ribu ton pada 2015. “Tahun ini diperkirakan mampu menghasilkan 480 ribu ton,” ungkap Fernando yang banyak menangani EMS di Vietnam dan Thailand.

Sedangkan produksi Indonesia yang 2008 sebesar 408.346 ton, lanjut East Asia Technical Regional Manager Epicore Bionetworks Inc. itu, terus menurun akibat se rangan berbagai penyakit. Namun pada 2016 berangsur membaik hingga 430 ribu ton. Tahun ini Indonesia diprediksi memproduksi 410 ribu ton akibat berbagai serangan penyakit. Pulihnya produksi udang Vietnam dan Thailand, menurut dia, lantaran petambak di kedua negara tersebut telah menerapkan pendederan benih sebelum ditebar ke kolam.

Ketika be nur yang ditebar ke kolam sudah lebih besar, maka keta hanannya terhadap serangan penyakit lebih baik diban dingkan benur tanpa pendederan. Pengenalan teknologi pendederan dimulai dari presentasi Fernando Garcia, Epicore Technical Manager. Pada 2013, kelompok Charoen Pokphand mengadopsi teknologi tersebut dan telah mengaplikasikannya pada semua farm mereka selama tiga tahun terakhir karena bermanfaat besar dalam produksi.

Epicore sendiri juga telah mengembangkan produk dan teknologi pendederan selama delapan tahun terakhir di Meksiko. Negara ini pulih dari dera an EMS lantaran mengaplikasikan teknologi pendederan dengan penggunaan vaname SPR (Specific Pathogen Resistent) Ekuador. Di Amerika Tengah dan Selatan, aplikasi pendederan telah berlangsung selama tiga tahun terakhir dan berhasil memperpendek siklus produksi 2030 hari serta mengurangi FCR 10%-30%. “Keduanya berdampak besar dalam penurunan biaya produksi,” tutur Fernando.

Di Asia, petambak Vietnam, Thailand dan Malaysia akhirnya mengadopsi teknologi Epicore setelah mengikuti banyak presentasi budidaya. Semen tara petambak Indonesia, Malaysia, China, dan India tertarik dengan teknologi tersebut setelah presen tasi Epicore pada APA Conference Trade Show 2016.

“Kami yakin masa depan budidaya udang di Asia Tenggara kembali mencapai ke suksesan dan efisien jika meng implementasikan teknologi pendederan ini,” Fernando berpromosi.

Tujuan Pendederan

Pendederan bertujuan mengubah tahapan agar pertumbuhan benur lebih cepat dan lebih tahan terhadap serang an penyakit. “Untuk mengontrol kesehatan benur agar siap beradaptasi de ngan air kolam. Lalu mengoptimalkan dan mening katkan efisiensi pemberi an pakan,” urainya. Selain itu, pendederan juga untuk meningkatkan kelangsungan hidup (SR) selama hari-hari pertama budidaya dan mencegah terpapar inang yang membawa penyakit.

Dengan menebar benur lebih tua berarti panjang siklus budidaya berkurang dan memperbaiki konversi pakan (FCR). Ada empat poin kunci keberhasilan teknologi pendederan yang dikembangkan Epicore sejak 2012. Yang pertama, infrastruktur dan teknologi yang tepat. Kedua, tandon, sistem filtrasi, disinfeksi, aerasi menggunakan blower, dan SDM yang optimal.

Ketiga, penggunaan probiotik untuk menjaga kualitas air, organisme dan mikroba dengan tujuan menjaga kondisi lingkung an dan menjaga benur supaya tetap sehat. Pemanfaatan probiotik, lanjut Fernando, menyasar target spesifik. Untuk mengontrol organisme, dosisnya 3 ppm setiap 72 jam. Lalu untuk target kontrol patogen di air sebanyak 2-5 ppm probiotik setiap 48 jam.

Dan untuk kontrol patogen di da lam benur, dosisnya 24 g/kg benur. Pakan benur juga harus mengandung protein tinggi sekitar 45% dengan frekuen si pemberian dua jam sekali. Terakhir, teknik memindahkan benur ke kolam pembesaran agar meminimalkan stres pada benur. Kolam pendederan terbuat dari ba han HDPE dengan 4 kolam linier kecil seluas 250 m2 dengan kedalaman 1m.

Setiap kolam pendederan memiliki ko lam linier lebih kecil yang digunakan untuk perla kuan air. Benur dideder kan dengan kepadatan satu ekor/liter air. Pakan diberikan 8 kali sehari. Benur ini dipanen umur 25 hari. Kemudian benur besar itu ditebar ke kolam budidaya dengan kepadatan 100 ekor/m2. Pemindahan benur ke kolam tidak boleh sembarangan.

Jika jarak antara kolam pendederan de ngan pembesaran dekat, benur dibawa menggunakan kantong berisi 2 kg benur dengan 20 kg air plus oksigen. Waktu pengangkutan maksimal 5 menit. Dengan cara ini, kematian selama pemindahan berkisar 5%- 10%. Bila jaraknya jauh, gunakan tangki ukuran 1.0002.000 liter yang diisi 75- 180 benur per liter atau 2040 kg per tangki. Tangki juga diisi oksigen. De ngan transportasi model begini kematian diperkirakan berkisar 510%.

Bisa digunakan pompa untuk meminimali sasi stres dan kematian benur. Pada umur 30 hari budidaya, benur akan mencapai bobot 12 g. Dan pada ha ri ke-60 bobotnya 25 g sehingga menghasilkan panen sebanyak 4,4 ton pada kolam 1.800 m2 . FCR-nya bagus, 1,15.

Pakan Pendederan Epibal

Untuk mendukung pendederan ter sebut, Epicore mengembangkan pa kan khusus berlabel Epibal mengandung protein dan energi tinggi dengan kecernaan yang baik. Epibal tersedia dalam ukuran 300 (200400 mikron); 500 (400600 mikron); 700 (600800 mikron); 1.200 (pellet 1,2 mm); dan 2.000 (pellet 2,0 mm) untuk pemeliharaan udang muda di atas 2 g/ekor.

“Pakan Epibal sangat mudah dicerna, mam pu mempertahankan kualitas air dalam kondisi optimal untuk penggunaan teknologi pembibitan kepadat an tinggi atau sistem fase ketiga,” Fer nando mempromosikan produknya. Epicore juga memasarkan tiga probiotik dasar untuk digunakan dalam teknologi pendederan.

Epicin Ponds untuk mengontrol vibrio dalam air budidaya. Epizym PST untuk pencernaan organik dan reduksi amonia, nitrat dan nitrit. Probiotik ini akan me ngurangi kebutuhan akan pertukaran air. Dan terakhir, Epicin D yang dicampurkan ke dalam pakan untuk menumbuhkan bakteri bagi kesehatan benur.