Membangun Danau Toba Secara Holistik dan Berkelanjutan

“Para stakeholder pengembangan lingkar Danau Toba ingin membangun Danau Toba secara berke – lanjutan. Artinya untuk pertumbuhan perekonomian daerah, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian lingkungan. Namun perlu juga pendekatan yang bersifat holistik dan jangka panjang,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Pertanian periode 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA. Bagaimana pendekatan pembangunan Danau Toba saat ini? Sekarang ini ada diskusi di antara stakeholder(peme – rintah, pengusaha, masyarakat, peneliti dari pusat hing ga daerah) tentang pengembangan lingkar Da – nau Toba. Semuanya membahas dan berpendapat Da – nau Toba harus dibangun secara berkelanjutan untuk per tumbuhan perekonomian daerah dan kese jah – teraan masyarakat sekaligus pelestarian lingkungan. Namun semuanya melihat secara sektoral. Pemerintah, para pelaku usaha bidang kehutanan, agribisnis, dan akuakultur melihat dari kepentingan masing-masing. Masyarakat pun berpikir demikian. Bahkan para akademisi cenderung pula berhenti dengan pendekatan disipliner mereka sendiri atau tidak secara interdisipliner. Jadi pembangunan Danau Toba sekarang ini dengan pendekatan yang terkom – partementalisasi atau terkotak-kotak. Dengan cara seperti itu sangat sulit untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Kita hanya menda pat – kan konflik atau debat yang tidak berkesudahan. Aki – batnya, keinginan untuk membangun lingkar Danau Toba tidak akan tercapai karena kekurangmampuan memberikan konsep yang holistik, jangka panjang, dan berkelanjutan. Debat apa yang paling serius dalam pengembangan Danau Toba? Salah satunya adalah mengenai daya dukung Danau Toba dalam pengembangan keramba jaring apung (KJA). Menurut hitungan Dinas Lingkungan Hidup Pro vinsi Sumatera Utara, daya dukung Danau Toba ter hadap KJA hanya 10 ribu ton/tahun. Namun hasil studi LIPI mengatakan, daya dukung Danau Toba antara 30 ribu – 50 ribu ton. Bahkan studi Kementerian SUARA AGRIBISNIS Bungaran Saragih Kelautan dan Perikanan (KKP) menghasilkan daya du – kung lebih besar lagi, sekitar 55 ribu ton per tahun de – ngan luas danau 112.970 ha. Ada perbedaan sangat besar di antara hasil studi ketiga pihak tersebut. Realita di lapangan beberapa tahun terakhir ini produksi ikan dari KJA di Danau Toba sudah sekitar 70 ribu ton per tahun berdasarkan statistik. Ban – dingkan dengan hasil perhitungan Dinas Lingkungan Hi – dup Sumut yang hanya 10 ribu ton. Itu berarti sebagian be sar KJA, baik milik perusahaan maupun masyarakat ha rus ditutup. Dan repotnya lagi, hasil studi Dinas Ling – kungan Hidup ini sudah dijadikan keputusan Gubernur Sumut walaupun akan dievaluasi setelah lima tahun. Bagaimana jalan keluarnya? KJA memang salah satu sumber polutan di Danau Toba. Namun sumber polutan paling besar dari non-KJA seperti limbah pemukiman, restoran, hotel, transportasi danau, pertanian, dan kehutanan di sekitar danau. Pen – dekatan daya dukung Danau Toba terhadap KJA selama ini dengan asumsi seolah-olah pencemaran perairan hanya dilakukan KJA. Asumsi yang sangat tidak tepat. Perlu ada diskusi bersama antara Dinas Lingkungan Hidup Sumut dengan Dinas Perikanan Sumut termasuk KKP dan LIPI serta dihadiri para cendekiawan yang bisa membahas hasil studi ketiga lembaga tersebut secara komprehensif. Ketiga pihak ini diminta memberikan presentasi dasar-dasar teori, metodologi studi, dan basis data yang digunakan sehingga sampai pada kesimpulan angka daya dukung mereka. Sampai sekarang ketiga pihak itu belum pernah di – pertemukan dalam satu forum yang waktunya cukup un – tuk membahas kesimpulan mereka itu. Perlu juga di bahas kelemahan dari analisis daya dukung sektoral se perti ini untuk soal-soal daya dukung ekonomi yang lebih luas. Dalam diskusi ini penting dibahas kekuatan dan ke – lemahan serta sumbangan positif dari masing-masing pen dekatan untuk membantu usaha-usaha membangun wilayah Danau Toba secara berkelanjutan dan berjangka panjang. Dengan demikian pendekatan studi daya dukung Danau Toba terhadap KJA yang bersifat sektoral tadi dapat dibahas secara bersama-sama sehingga lebih bersifat holistik, berkelanjutan, dan jangka panjang.