Categories
Agraria

Masa Depan Itu di Life Science

Sebagai anak diplomat, Dr. rer.nat Teguh Prajitno, 50, tidak memilih menjadi diplomat, tetapi lebih suka mendalami bidang biologi molekuler. “Saya senangnya ke arah kedokteran, tapi bukan dokter praktik, saya suka ke sainsnya,” kata Animal Health Director Grup Japfa itu.

“Biologi itu life science. Masa depan itu di life science,” ucap Teguh ketika ditemui di Wisma Millenia, Jakarta, Rabu, 1 November lalu. Life science (ilmu hayati) itu antara lain meliputi pertanian, farmasi, dan bioenergi. Ilmu ini sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan. Sebagai ilustrasi, pertengahan tahun ini penduduk dunia sekitar 7,6 miliar jiwa.

Pada 2050 akan meningkat menjadi 9,7 miliar jiwa. “Kalau kita bicara populasi terkait kebutuhan pangan, pada 2050 kebutuhan pangan meningkat 60%. Kebutuhan jagung meningkat 67%,” tutur ayah dua anak itu. Sekarang populasi hewan sekitar 63 miliar, yang meliputi babi, sapi, kambing, ayam, dan sebagainya.

Pada 2050 kebutuhan hewan sebagai sumber protein mencapai 100 miliar ekor. Dengan peningkatan populasi, lahan pertanian di dunia yang sekarang 34% harus meningkat. Masalahnya lahan kita terbatas. Di sinilah pentingnya life science untuk meningkatkan efisiensi. Dengan dukungan ilmu ini, kita bisa menurunkan rasio konversi pakan (FCR). “Dengan turun nya FCR dari tahun ke tahun, maka kita bisa menghemat lahan dan air minum,” lanjutnya.

Apa artinya dengan menurunnya FCR ayam? Jika satu ekor ayam makan satu kilogram pakan, maka ayam itu butuh dua liter air. “Kalau FCR ayam turun dua poin saja, kita bisa saving air satu swimming pool ukuran olimpic atau setara 2,5 juta m3 air. Ini visualisasi bahwa biosains di agriculture itu penting sekali,” papar Presiden Direktur PT Vaksindo Satwa Nusantara itu. Sekarang ini, menurut dia, kita butuh ayam yang cepat tumbuh tapi FCR-nya rendah.

Selain itu sesuai permintaan pasar, orang Indonesia itu lebih menyukai paha ayam ketimbang daging dada. “Sekarang seleksinya ke daging dada. Orang Indonesia nggak suka dada ayam. Nanti akan dihasilkan ayam dengan daging dada lebih sedikit tapi pahanya yang lebih banyak,” ungkapnya. “Kita sudah bicara dengan prinsipal kita. Kita akan impor (indukan) ayam yang genetiknya lebih sedikit daging dadanya tapi lebih banyak daging pahanya,” ujarnya memberi bocoran.

Berdasarkan peta genomik ayam, ilmuwan akan merakit ayam yang lebih sedikit daging dadanya dan lebih banyak daging pahanya. Inilah sebuah gambaran betapa pentingnya life science itu pada masa mendatang.

Membuat Vaksin Sendiri

Setelah meraih gelar doktor biologi molekuler dari RWTH Aachen, Teguh bekerja di Research & Development Bayer AG, Jerman. Pria yang pernah bermain sepak bola di klub Alemannia Aachen ini melakukan penelitian bidang farmasi. Kemudian ia bekerja di Intervet International, Belanda.

Lalu ditempatkan di Intervet Indonesia dengan posisi technical marketing and sales. Pada 2003, ia bergabung di PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk., Grup Japfa. Di grup ini, Teguh bertanggung jawab pada kesehatan ayam di perusahaan pembibitan itu. Pada 2008, Grup Japfa mengakuisisi PT Vaksindo Satwa Nusantara dan Teguh duduk sebagai Presiden Direktur.

Pada tahun ini, Vaksindo dan PT Agrinusa Jaya Santosa (AJS) menjadi SBU (strategic business unit) Animal Health Grup Japfa.“Vaksindo dan AJS menjadi SBU Animal Health,” tegasnya. Japfa, menurut Teguh, adalah perusahaan yang fokus ke produksi protein hewani, apakah itu susu, ikan, udang, daging sapi, ayam, dan telur. Setiap tahap, mulai dari pembibitan, budidaya, sampai pengolahan, diperlukan pendukung. Misalnya, untuk mengatasi penyakit diperlukan vaksin.

“Kita nggak bisa memikirkan vaksin yang ada saat ini. Tren dunia belum tentu cocok dengan kita. SBU kita nggak terlalu besar, tapi kita harus inovatif,” katanya kepada AGRINA. Misalnya, pada 2003, Indonesia dilanda Avian Influenza (AI) atau flu burung, yang disebabkan virus H5N1. Dari 2003 sampai 2005 banyak peternak menggunakan vaksin dari luar negeri.

Setelah itu virus flu burung bermutasi sehingga vaksin dari luar sudah tidak mampu lagi membendung virus AI. “Saya usulkan ke manajemen buat vaksin sendiri. Pas mau bikin (2008), kami ditawari Vaksindo, langsung kami masuk ke situ,” kata lelaki kelahiran Beijing, China, 31 Januari 1967 itu. Tahun lalu masuk virus H9N2 ke Indonesia. “Virus ini virus lama.

Sepuluh tahun lalu saya sudah wanti-wanti. Virus ini menyebar dari Eropa ke China, dari Rusia sampai ke Indonesia,” cetusnya. Dengan bergerak cepat, Vaksindo juga sudah menyiapkan vaksin H9N2 ini. “Kami dalam tahap registrasi,” ungkap penggemar mi dan ayam pop ini. Apa bahaya H9N2 ini? Kita mengenal istilah 90, 40, 60. Maksudnya produksi turun dari 90% menjadi 40% kemudian naik lagi ke 60%. “Dia nyangkut di 60%.

Ayam berproduksi hanya separuh. Virus H9N2 ini merusak saluran telurnya. Ayam sudah sehat kembali tapi saluran telur rusak permanen. Ayam butuh makan tapi produksi rendah,” jelas suami Fitri Prajitno ini.

Budaya Disiplin

Meskipun berdarah Yogyakarta, ia bermukim di Jerman sejak SD sampai perguruan tinggi. “Lingkungan saya semuanya Jerman,” kenang Teguh. Ketika kuliah di perguruan tinggi, RW TH Aachen, Jerman, yang juga tempat sekolahnya B.J. Habibie, Teguh mulai bergaul dengan para mahasiswa dari Indonesia.

Ada satu hal yang dia ingat sampai sekarang. Suatu hari ia akan bermain sepak bola dengan rekanrekan mahasiswa dari Indonesia di Jerman. Rekannya mengajak Teguh bermain sepak bola jam 10.00. Karena sudah terbiasa disiplin, ia datang jam 09.00. “Teman-teman saya dari Indonesia datang jam 12.00. “Tiga jam saya nunggu.

Lho kok mainnya jam satu mengapa saya disuruh nunggu tiga jam. Jawabnya, karena mereka pastinya datang jam 12.00,” ceritanya sedikit prihatin. Teguh sudah terbiasa dengan kedisiplinan di Jerman. “Orang Jerman bilang, saya tidak kenal macet atau apa. Kalau sudah tahu macet datang lebih awal,” tegasnya. Hal ini yang dilakukannya di Indonesia. Ketika mau rapat di Purwakarta jam 09.00, misalnya, maka ia berangkat dari rumahnya di kawasan BSD, Tangerang Selatan, jam 05.00, supaya tepat waktu.

Dengan bekal life science, ia berdisiplin teguh untuk mendukung ketahanan pangan di Indonesia, melalui produksi vaksin sesuai dengan kebutuhan di Indonesia. Vaksin, seperti vaksin H9N2, sangat dibutuhkan peternak agar terhindari dari “kutukan” 90, 40, dan 60 yang sangat merugikan.