Categories
Agraria

Kontroversi Kebijakan Sapi

Penurunan kesejahteraan peternak sapi di Indonesia ikut dipengaruhi oleh kebijakan kontroversial yang diambil oleh peme rintah. Mewakili Lembaga Studi Pembangunan Peternakan Indonesia (LSPPI), Rochadi Tawaf memaparkan, setidaknya terdapat tujuh kebijakan membangun peter nakan sapi yang bersifat kontroversial.

Pertama, larangan penggunaan hormon pertumbuhan. Kedua, lamanya peme liharaan penggemukan yang mencapai 122 hari. Ketiga, perubahan pendekatan dari produksi menjadi harga daging sapi. Ke empat, kebijakan perubahan bobot badan impor sapi bakalan, mulanya 350 kg menjadi 450 kg.

Kelima, membebaskan impor daging dan sapi. Keenam, dibukanya keran impor dari negara yang belum bebas PMK. “Terakhir, rasio impor sapi 1:5 bakalan dengan indukan,” tutur Rochadi, di Jakarta, Selasa (19/9). Na nang Subendro, Ketua Komunitas Sapi Indonesia menambahkan, kebijakan rasio impor 1:5 malah membuat kandang peternak dipenuhi oleh sapi-sapi indukan.

Nanang yang juga peternak sapi asal Lampung berujar, pemerintah melalui program Upsus Siwab memberikan subsidi ke peternak sapi rakyat tidak lebih dari Rp200 ribu/ekor. “Belum lagi biaya pakan dan lainnya yang naik setiap tahun.

Jangan sampai peminat usaha ternak semakin sedikit karena dianggap semakin tidak menguntungkan,” tandas Nanang.