Categories
Agraria

Kontroversi Kebijakan Sapi

Penurunan kesejahteraan peternak sapi di Indonesia ikut dipengaruhi oleh kebijakan kontroversial yang diambil oleh peme rintah. Mewakili Lembaga Studi Pembangunan Peternakan Indonesia (LSPPI), Rochadi Tawaf memaparkan, setidaknya terdapat tujuh kebijakan membangun peter nakan sapi yang bersifat kontroversial.

Categories
Agraria

Masa Depan Itu di Life Science

Sebagai anak diplomat, Dr. rer.nat Teguh Prajitno, 50, tidak memilih menjadi diplomat, tetapi lebih suka mendalami bidang biologi molekuler. “Saya senangnya ke arah kedokteran, tapi bukan dokter praktik, saya suka ke sainsnya,” kata Animal Health Director Grup Japfa itu.

“Biologi itu life science. Masa depan itu di life science,” ucap Teguh ketika ditemui di Wisma Millenia, Jakarta, Rabu, 1 November lalu. Life science (ilmu hayati) itu antara lain meliputi pertanian, farmasi, dan bioenergi. Ilmu ini sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan. Sebagai ilustrasi, pertengahan tahun ini penduduk dunia sekitar 7,6 miliar jiwa.

Pada 2050 akan meningkat menjadi 9,7 miliar jiwa. “Kalau kita bicara populasi terkait kebutuhan pangan, pada 2050 kebutuhan pangan meningkat 60%. Kebutuhan jagung meningkat 67%,” tutur ayah dua anak itu. Sekarang populasi hewan sekitar 63 miliar, yang meliputi babi, sapi, kambing, ayam, dan sebagainya.

Pada 2050 kebutuhan hewan sebagai sumber protein mencapai 100 miliar ekor. Dengan peningkatan populasi, lahan pertanian di dunia yang sekarang 34% harus meningkat. Masalahnya lahan kita terbatas. Di sinilah pentingnya life science untuk meningkatkan efisiensi. Dengan dukungan ilmu ini, kita bisa menurunkan rasio konversi pakan (FCR). “Dengan turun nya FCR dari tahun ke tahun, maka kita bisa menghemat lahan dan air minum,” lanjutnya.

Apa artinya dengan menurunnya FCR ayam? Jika satu ekor ayam makan satu kilogram pakan, maka ayam itu butuh dua liter air. “Kalau FCR ayam turun dua poin saja, kita bisa saving air satu swimming pool ukuran olimpic atau setara 2,5 juta m3 air. Ini visualisasi bahwa biosains di agriculture itu penting sekali,” papar Presiden Direktur PT Vaksindo Satwa Nusantara itu. Sekarang ini, menurut dia, kita butuh ayam yang cepat tumbuh tapi FCR-nya rendah.

Selain itu sesuai permintaan pasar, orang Indonesia itu lebih menyukai paha ayam ketimbang daging dada. “Sekarang seleksinya ke daging dada. Orang Indonesia nggak suka dada ayam. Nanti akan dihasilkan ayam dengan daging dada lebih sedikit tapi pahanya yang lebih banyak,” ungkapnya. “Kita sudah bicara dengan prinsipal kita. Kita akan impor (indukan) ayam yang genetiknya lebih sedikit daging dadanya tapi lebih banyak daging pahanya,” ujarnya memberi bocoran.

Berdasarkan peta genomik ayam, ilmuwan akan merakit ayam yang lebih sedikit daging dadanya dan lebih banyak daging pahanya. Inilah sebuah gambaran betapa pentingnya life science itu pada masa mendatang.

Membuat Vaksin Sendiri

Setelah meraih gelar doktor biologi molekuler dari RWTH Aachen, Teguh bekerja di Research & Development Bayer AG, Jerman. Pria yang pernah bermain sepak bola di klub Alemannia Aachen ini melakukan penelitian bidang farmasi. Kemudian ia bekerja di Intervet International, Belanda.

Lalu ditempatkan di Intervet Indonesia dengan posisi technical marketing and sales. Pada 2003, ia bergabung di PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk., Grup Japfa. Di grup ini, Teguh bertanggung jawab pada kesehatan ayam di perusahaan pembibitan itu. Pada 2008, Grup Japfa mengakuisisi PT Vaksindo Satwa Nusantara dan Teguh duduk sebagai Presiden Direktur.

Pada tahun ini, Vaksindo dan PT Agrinusa Jaya Santosa (AJS) menjadi SBU (strategic business unit) Animal Health Grup Japfa.“Vaksindo dan AJS menjadi SBU Animal Health,” tegasnya. Japfa, menurut Teguh, adalah perusahaan yang fokus ke produksi protein hewani, apakah itu susu, ikan, udang, daging sapi, ayam, dan telur. Setiap tahap, mulai dari pembibitan, budidaya, sampai pengolahan, diperlukan pendukung. Misalnya, untuk mengatasi penyakit diperlukan vaksin.

“Kita nggak bisa memikirkan vaksin yang ada saat ini. Tren dunia belum tentu cocok dengan kita. SBU kita nggak terlalu besar, tapi kita harus inovatif,” katanya kepada AGRINA. Misalnya, pada 2003, Indonesia dilanda Avian Influenza (AI) atau flu burung, yang disebabkan virus H5N1. Dari 2003 sampai 2005 banyak peternak menggunakan vaksin dari luar negeri.

Setelah itu virus flu burung bermutasi sehingga vaksin dari luar sudah tidak mampu lagi membendung virus AI. “Saya usulkan ke manajemen buat vaksin sendiri. Pas mau bikin (2008), kami ditawari Vaksindo, langsung kami masuk ke situ,” kata lelaki kelahiran Beijing, China, 31 Januari 1967 itu. Tahun lalu masuk virus H9N2 ke Indonesia. “Virus ini virus lama.

Sepuluh tahun lalu saya sudah wanti-wanti. Virus ini menyebar dari Eropa ke China, dari Rusia sampai ke Indonesia,” cetusnya. Dengan bergerak cepat, Vaksindo juga sudah menyiapkan vaksin H9N2 ini. “Kami dalam tahap registrasi,” ungkap penggemar mi dan ayam pop ini. Apa bahaya H9N2 ini? Kita mengenal istilah 90, 40, 60. Maksudnya produksi turun dari 90% menjadi 40% kemudian naik lagi ke 60%. “Dia nyangkut di 60%.

Ayam berproduksi hanya separuh. Virus H9N2 ini merusak saluran telurnya. Ayam sudah sehat kembali tapi saluran telur rusak permanen. Ayam butuh makan tapi produksi rendah,” jelas suami Fitri Prajitno ini.

Budaya Disiplin

Meskipun berdarah Yogyakarta, ia bermukim di Jerman sejak SD sampai perguruan tinggi. “Lingkungan saya semuanya Jerman,” kenang Teguh. Ketika kuliah di perguruan tinggi, RW TH Aachen, Jerman, yang juga tempat sekolahnya B.J. Habibie, Teguh mulai bergaul dengan para mahasiswa dari Indonesia.

Ada satu hal yang dia ingat sampai sekarang. Suatu hari ia akan bermain sepak bola dengan rekanrekan mahasiswa dari Indonesia di Jerman. Rekannya mengajak Teguh bermain sepak bola jam 10.00. Karena sudah terbiasa disiplin, ia datang jam 09.00. “Teman-teman saya dari Indonesia datang jam 12.00. “Tiga jam saya nunggu.

Lho kok mainnya jam satu mengapa saya disuruh nunggu tiga jam. Jawabnya, karena mereka pastinya datang jam 12.00,” ceritanya sedikit prihatin. Teguh sudah terbiasa dengan kedisiplinan di Jerman. “Orang Jerman bilang, saya tidak kenal macet atau apa. Kalau sudah tahu macet datang lebih awal,” tegasnya. Hal ini yang dilakukannya di Indonesia. Ketika mau rapat di Purwakarta jam 09.00, misalnya, maka ia berangkat dari rumahnya di kawasan BSD, Tangerang Selatan, jam 05.00, supaya tepat waktu.

Dengan bekal life science, ia berdisiplin teguh untuk mendukung ketahanan pangan di Indonesia, melalui produksi vaksin sesuai dengan kebutuhan di Indonesia. Vaksin, seperti vaksin H9N2, sangat dibutuhkan peternak agar terhindari dari “kutukan” 90, 40, dan 60 yang sangat merugikan.

Categories
Agraria

Ke mana Arah Agribisnis 2018?

“SECARA KESELURUHAN pertanian dan pangan pada 2018 akan bergerak ke arah positif namun te tap harus berhati-hati karena faktor tak terduga dari dunia internasional dan juga perubahan iklim akibat global warming sedang berlangsung,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Pertanian periode 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA.

Apa dasarnya?

Untuk melihat prospek pertanian dan pangan 2018, kita harus membuat hipotesis, bukan jawaban pasti terhadap apa yang terjadi secara global di bidang pertanian dan pangan serta ekonomi dan politik. Pasalnya, pertanian dan pangan Indonesia merupakan keempat terbesar di dunia sehingga kita dipe ngaruhi dan mempengaruhi pertanian dan pangan dunia.

Kita pun perlu mengerti perkembangan politik ekonomi negeri kita sekitar tiga tahun belakangan ini. Semua itu berinteraksi secara dinamis yang membantu untuk memprediksi kondisi pertanian dan pangan kita 2018. Pada level global, ekonomi dunia yang mengalami resesi sejak 2008/2009 telah menunjukkan tanda-tanda menemukan solusinya dan bergerak positif.

Ekonomi besar dunia, seperti China, sudah tidak mengalami penurunan lagi, bahkan lebih stabil dan bergerak ke pertumbuhan yang lebih besar. Amerika Serikat pada tahun pertama pemerintahan Presiden Trump juga menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian juga India, pertumbuhan ekonominya terus berlanjut.

Tiga negara ekonomi besar tersebut telah menghela perekonomian dunia ke arah bertumbuh lebih besar dan stabil. Tandanya, bukan hanya peningkatan GDP tetapi juga pertumbuhan permintaan terhadap sumberdaya yang menopang GDP tersebut. Memang Eropa termasuk Rusia belum tumbuh menggembirakan, tapi keadaannya tidak lebih memburuk.

Dengan pertimbangan itu, kita menyimpulkan faktor ekonomi global akan berdampak positif ter hadap permintaan produk pertanian dan pangan dengan catatan konflik Korea Utara dan AS serta pengakuan Presiden Trump atas Yerusalem sebagai ibukota Israel tidak berlanjut menjadi perang terbuka. SUARA AGRIBISNIS Bungaran Saragih Perkiraan saya, semua pihak akan menahan diri agar konflik yang lebih buruk tidak sampai timbul.

Bagaimana di dalam negeri?

Ada beberapa hal yang menjadi game changer (pengubah permainan). Pertama, pada 2018 akan ada pilkada serentak di 171 tingkat provinsi, kota, dan kabupaten. Pesta demokrasi ini akan menambah hiruk-pikuk sosial politik dalam negeri, tetapi di sisi lain mengalirkan sumberdaya keuangan dalam jumlah signifikan ke daerah-daerah.

Sebagian aliran uang tersebut akan dibelanjakan untuk produk-produk pangan dan minuman. Ini bisa mendongkrak permintaan nasional terhadap produk-produk pangan dan minuman yang dihasilkan dari pertanian dalam arti luas. Kedua, pembelanjaan besar pemerintah untuk pertanian dan pangan dalam tiga tahun terakhir yang terus berlanjut pada 2018.

Ini wujud komitmen pemerintah untuk pencapaian kedaulatan pangan, salah satu nawacita pemerintahan JokowiJK. Hal ini akan mendorong pertumbuhan pertanian dari segi produksi dan penawaran. Pertanian akan menjadi salah satu sumber pertumbuhan perekonomian nasional. Ketiga, pengembangan infrastruktur selama tiga tahun ini akan berlanjut pada 2018 dan sebagian sudah pada tahap penyelesaian. Ini juga salah satu faktor pendorong peningkatan produksi di dalam negeri. Keempat, prediksi pemerintah tentang pertumbuhan ekonomi nasional yang meningkat pada 2018 dibandingkan 2017 merupakan penarik peningkatan permintaan terhadap pertanian dan pangan.

Dan kelima, belum ada prakiraan cuaca ekstrem pada 2018, seperti banjir atau kekeringan dalam skala besar. Namun perlu menjadi catatan, program kebijakan kedaulatan pangan pemerintah selama tiga tahun terakhir yang cenderung diterjemahkan sebagai kebijakan swasembada untuk komoditas tertentu dapat menghadapi ujian pada 2018.

Pengaturan, bahkan pela rangan importasi bisa menaikkan harga pangan di dalam negeri karena diprediksi pertumbuhan permintaan lebih kuat daripada pertumbuhan penawaran. Karena itu, pemerintah harus lebih hati-hati agar pertanian dan pangan tidak menjadi sumber inflasi dalam negeri.

Categories
Agraria

Pendederan Benur, Solusi Jitu Cegah EMS

Penyakit EMS pada udang merontokkan produksi di negara-negara produsen udang du nia, seperti China, Vietnam, dan Thailand. Cara penanggulangannya terus dikaji pa ra ahli. Salah satunya yang cukup efektif adalah mendederkan benur dulu sampai umur tertentu sebelum ditebar ke tambak. Pentingnya pendederan benur dalam mencegah se rangan EMS disosialisasikan Fernando Castro Tale ro, pakar udang dari Epico re Bionetwork USA, pada seminar “Mencari Solusi Budidaya yang Baik dan Berkelanjutan” di Desa Purworejo, Kecamatan Pa sir Sakti, Lampung Timur, baru-baru ini. Seminar yang difasilitasi PT Behn Meyer Indonesia itu diikuti sekitar 60-an pembudidaya udang dari Lampung Timur dan Lampung Selatan, Pro vinsi Lampung. Acara di Balai Desa Pur worejo tersebut juga dihadiri Yusuf Maryanto, pimpinan PT Behn Meyer Area Lampung dan Jawa Barat dan Zainal, Sekdes Purworejo.

Produksi Mulai Pulih

Menurut Fernando, akibat serangan EMS produksi udang China yang pada 2008 mencapai 1.286.074 ton anjlok menjadi 550 ribu ton pada 2016. Tahun ini Negeri Tirai Bambu tersebut diperkirakan hanya memproduksi tak lebih dari 400 ribu ton udang.

Demikian pula Thailand yang pada 2008 memproduksi 507.500 ton, pada 2016 hanya menghasilkan 300 ribu ton. Tahun ini produksinya berangsur pulih lantaran sudah berhasil meng atasi serangan EMS. Sementara produksi Vietnam dari 381.300 ton saat 2008 anjlok tinggal 180 ribu ton pada 2015. “Tahun ini diperkirakan mampu menghasilkan 480 ribu ton,” ungkap Fernando yang banyak menangani EMS di Vietnam dan Thailand.

Sedangkan produksi Indonesia yang 2008 sebesar 408.346 ton, lanjut East Asia Technical Regional Manager Epicore Bionetworks Inc. itu, terus menurun akibat se rangan berbagai penyakit. Namun pada 2016 berangsur membaik hingga 430 ribu ton. Tahun ini Indonesia diprediksi memproduksi 410 ribu ton akibat berbagai serangan penyakit. Pulihnya produksi udang Vietnam dan Thailand, menurut dia, lantaran petambak di kedua negara tersebut telah menerapkan pendederan benih sebelum ditebar ke kolam.

Ketika be nur yang ditebar ke kolam sudah lebih besar, maka keta hanannya terhadap serangan penyakit lebih baik diban dingkan benur tanpa pendederan. Pengenalan teknologi pendederan dimulai dari presentasi Fernando Garcia, Epicore Technical Manager. Pada 2013, kelompok Charoen Pokphand mengadopsi teknologi tersebut dan telah mengaplikasikannya pada semua farm mereka selama tiga tahun terakhir karena bermanfaat besar dalam produksi.

Epicore sendiri juga telah mengembangkan produk dan teknologi pendederan selama delapan tahun terakhir di Meksiko. Negara ini pulih dari dera an EMS lantaran mengaplikasikan teknologi pendederan dengan penggunaan vaname SPR (Specific Pathogen Resistent) Ekuador. Di Amerika Tengah dan Selatan, aplikasi pendederan telah berlangsung selama tiga tahun terakhir dan berhasil memperpendek siklus produksi 2030 hari serta mengurangi FCR 10%-30%. “Keduanya berdampak besar dalam penurunan biaya produksi,” tutur Fernando.

Di Asia, petambak Vietnam, Thailand dan Malaysia akhirnya mengadopsi teknologi Epicore setelah mengikuti banyak presentasi budidaya. Semen tara petambak Indonesia, Malaysia, China, dan India tertarik dengan teknologi tersebut setelah presen tasi Epicore pada APA Conference Trade Show 2016.

“Kami yakin masa depan budidaya udang di Asia Tenggara kembali mencapai ke suksesan dan efisien jika meng implementasikan teknologi pendederan ini,” Fernando berpromosi.

Tujuan Pendederan

Pendederan bertujuan mengubah tahapan agar pertumbuhan benur lebih cepat dan lebih tahan terhadap serang an penyakit. “Untuk mengontrol kesehatan benur agar siap beradaptasi de ngan air kolam. Lalu mengoptimalkan dan mening katkan efisiensi pemberi an pakan,” urainya. Selain itu, pendederan juga untuk meningkatkan kelangsungan hidup (SR) selama hari-hari pertama budidaya dan mencegah terpapar inang yang membawa penyakit.

Dengan menebar benur lebih tua berarti panjang siklus budidaya berkurang dan memperbaiki konversi pakan (FCR). Ada empat poin kunci keberhasilan teknologi pendederan yang dikembangkan Epicore sejak 2012. Yang pertama, infrastruktur dan teknologi yang tepat. Kedua, tandon, sistem filtrasi, disinfeksi, aerasi menggunakan blower, dan SDM yang optimal.

Ketiga, penggunaan probiotik untuk menjaga kualitas air, organisme dan mikroba dengan tujuan menjaga kondisi lingkung an dan menjaga benur supaya tetap sehat. Pemanfaatan probiotik, lanjut Fernando, menyasar target spesifik. Untuk mengontrol organisme, dosisnya 3 ppm setiap 72 jam. Lalu untuk target kontrol patogen di air sebanyak 2-5 ppm probiotik setiap 48 jam.

Dan untuk kontrol patogen di da lam benur, dosisnya 24 g/kg benur. Pakan benur juga harus mengandung protein tinggi sekitar 45% dengan frekuen si pemberian dua jam sekali. Terakhir, teknik memindahkan benur ke kolam pembesaran agar meminimalkan stres pada benur. Kolam pendederan terbuat dari ba han HDPE dengan 4 kolam linier kecil seluas 250 m2 dengan kedalaman 1m.

Setiap kolam pendederan memiliki ko lam linier lebih kecil yang digunakan untuk perla kuan air. Benur dideder kan dengan kepadatan satu ekor/liter air. Pakan diberikan 8 kali sehari. Benur ini dipanen umur 25 hari. Kemudian benur besar itu ditebar ke kolam budidaya dengan kepadatan 100 ekor/m2. Pemindahan benur ke kolam tidak boleh sembarangan.

Jika jarak antara kolam pendederan de ngan pembesaran dekat, benur dibawa menggunakan kantong berisi 2 kg benur dengan 20 kg air plus oksigen. Waktu pengangkutan maksimal 5 menit. Dengan cara ini, kematian selama pemindahan berkisar 5%- 10%. Bila jaraknya jauh, gunakan tangki ukuran 1.0002.000 liter yang diisi 75- 180 benur per liter atau 2040 kg per tangki. Tangki juga diisi oksigen. De ngan transportasi model begini kematian diperkirakan berkisar 510%.

Bisa digunakan pompa untuk meminimali sasi stres dan kematian benur. Pada umur 30 hari budidaya, benur akan mencapai bobot 12 g. Dan pada ha ri ke-60 bobotnya 25 g sehingga menghasilkan panen sebanyak 4,4 ton pada kolam 1.800 m2 . FCR-nya bagus, 1,15.

Pakan Pendederan Epibal

Untuk mendukung pendederan ter sebut, Epicore mengembangkan pa kan khusus berlabel Epibal mengandung protein dan energi tinggi dengan kecernaan yang baik. Epibal tersedia dalam ukuran 300 (200400 mikron); 500 (400600 mikron); 700 (600800 mikron); 1.200 (pellet 1,2 mm); dan 2.000 (pellet 2,0 mm) untuk pemeliharaan udang muda di atas 2 g/ekor.

“Pakan Epibal sangat mudah dicerna, mam pu mempertahankan kualitas air dalam kondisi optimal untuk penggunaan teknologi pembibitan kepadat an tinggi atau sistem fase ketiga,” Fer nando mempromosikan produknya. Epicore juga memasarkan tiga probiotik dasar untuk digunakan dalam teknologi pendederan.

Epicin Ponds untuk mengontrol vibrio dalam air budidaya. Epizym PST untuk pencernaan organik dan reduksi amonia, nitrat dan nitrit. Probiotik ini akan me ngurangi kebutuhan akan pertukaran air. Dan terakhir, Epicin D yang dicampurkan ke dalam pakan untuk menumbuhkan bakteri bagi kesehatan benur.

Categories
Agraria

Antisipasi Penyakit Kala Musim Hujan Datang

Curah hujan yang tinggi selama musim hujan meningkatkan kelembap an di dalam kandang unggas. Kondisi seperti ini memudahkan timbul nya penyakit pernapasan pada unggas. Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, I Wayan Teguh Wibawan, musim hujan turut menimbulkan potensi tumbuhnya jamur atau cendawan.

Contoh yang paling sering ditemukan adalah Aspergillus yang menghasilkan racun afla toksin. Aflatoksin ini dapat menyebabkan kekebalan tubuh ayam pun menurun. Beberapa penyakit pernapasan yang biasa terjadi selama musim penghujan antara lain Newcastle Disease (ND) alias tetelo, Chronic Respiratory Disease (CRD), Coryza, dan Infectious Bronchitis(IB).

Kasus penyakit tidak hanya terjadi akibat agen infeksius, tetapi bisa juga dari yang non infeksius. Menurut Wayan, adanya amonia dan kandang yang lembap dapat meng iritasi saluran pernapasan. “Sel-sel saluran pernapasan terbuka dan agen penyakit lebih mudah masuk ke dalam tubuh unggas,” terang profesor bakteriologi dan imunologi ini saat dijumpai AGRINA di IPB, Bogor (19/1).

Munculnya Penyakit

NLP Indi Dharmayanti, Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLivet) Bogor, se pendapat dengan Wayan, CRD terbilang penyakit yang marak sewaktu musim penghujan. Dari kalangan praktisi peter nakan, H. Dudung Rahmat, peternak asal Bogor, Jabar, juga mengamini, penyakit yang sering disebut ngorok tersebut me mang acap kali ditemukan di peternakan broiler saat curah hujan melimpah.

CRD yang disebabkan bakteri Mycoplasma gallisepticum menular pada suhu lingkungan rendah, kelembapan ting gi, dan kurangnya ventilasi, serta ter lalu padatnya lingkungan ternak. Doktor lulusan Justus Liebig Universitat, Jerman, tersebut, menambahkan, CRD sering di temukan bersamaan dengan penyakit lain, seperti bakteri E. coli, membentuk CRD kompleks.

CRD bisa menyerang ayam pedaging dan petelur. Di samping ngorok, ND dan avian in fluen za (AI) juga turut membayangi ter nak. Ahli virologi ini menyebut, kelembap an menjadi salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuh an mikroorganisme termasuk virus. Daya tahan tubuh unggas sendiri juga berperan terhadap masuknya penyakit. Bila tak cukup asupan pakan dan energi, ayam akan lebih mudah terserang penyakit.

Wayan menuturkan, kondisi hujan terus menerus memicu stres pada ayam. Stres bisa mengganggu asupan pakan (feed intake). Padahal, lanjut dosen FKH IPB ini, spesifikasi pakan harus terpenuhi sebagai sumber energi. “Kalau feed intake tidak masuk, bisa timbul berbagai masalah (pe nyakit). Penyakit ini bukan ditimbulkan langsung dari pakan, tapi karena ayam tidak memperoleh kecukupan energi. Kalau terpenuhi, kemungkinan 70% bisa teratasi,” paparnya.

Sementara itu Rakhmad Syahriadi, Nu tri tionis PT Trouw Nutrition Indonesia men duga, munculnya penyakit pada ung gas diawali dari tertekannya kekebal an tubuh (imunosupresif). “Imunosupresif sering tidak disadari, tahu-tahu produksi turun. Vaksinasi tidak efektif, padahal program vaksinasi jalan terus,” ujarnya.

Penyakit yang menyerang ayam, tam bah Rakhmad, bisa diperparah oleh kua litas dan konsumsi air yang tidak terjaga. Pakan berkualitas tanpa didukung asup an air yang minum bersih mengakibatkan pakan tidak terserap dengan baik. Bakteri seperti E.coli dan Salmonella yang ter kan dung di dalam air sangat memungkinkan terbawa ke dalam tubuh ayam.

Biosekuriti dan Vaksinasi

Seringan apapun penyakit pada ayam kalau tidak ditangani dengan baik akan memicu penyakit lain yang bisa berujung kematian. Wayan menggarisbawahi, ayam-ayam muda lebih mudah tergang gu mikroba. Untuk itu, anak ayam memer lukan penghangat (brooding).

Brooding yang baik akan menentukan pertum buhan ayam pada masa awal. Penyerapan kuning telur ke dalam tubuh ayam me nambah energi dan menghindari terja dinya omphalitis (radang pusar). Untuk mengurangi stres pada ayam, lu lus an kedokteran hewan IPB ini menya rankan, sebaiknya ayam diberikan asupan yang mengandung preparat penopang fung si hati.

Preparat-preparat seperti kur kumin, karnitin, dan sorbitol, serta vitamin E dan selenium dapat dipilih sebagai antistres. Berikutnya, Wayan turut menyoroti pen tingnya penerapan biosekuriti yang ketat.

Berdasarkan pengamatannya di lapang an, peternakan broiler dan layer tidak me nerapkan standar biosekuriti yang sama. Rakhmad pun membenarkan, bioseku riti yang ketat masih belum banyak dilak sanakan. Seharusnya, lalu lintas keluar masuknya orang ke farm bisa lebih dike tatkan. “Akan bahaya lagi kalau dalam se hari orang itu berpindah-pindah farm. Mobil pengangkut dan tempat telur juga bisa berperan,” imbuhnya.

Tidak kalah pentingnya adalah keber hasilan vaksinasi. Wayan mengingatkan, hendaknya peternak mengecek kembali titer hasil vaksinasi. Soalnya, bisa saja terjadi ketidaksempurnaan pelaksanaan vaksinasi sehingga titer antibodi tidak merata dalam satu populasi ayam. Pada musim seperti ini, kekebalan penyakit penyakit respirasi ada baiknya dicek melalui laboratorium.

Masih tentang vaksinasi, Ayatullah M. Natsir, Technical & Marketing Manager PT Ceva Animal Health Indonesia menge mukakan, optimalisasi vaksinasi broiler bisa dilakukan sejak masih di hatchery. Menurut Ayat, vaksinasi dari hatchery memberikan kekebalan lebih awal dan kualitas vaksinasi lebih optimal. Pada pe ternakan broiler modern, ayam dikon disikan untuk berkembang dan tumbuh sangat cepat.

Waktu di kandang menjadi singkat sehingga ayam sensitif terhadap penyakit dan stres. Dengan hatchery vak sinasi, tingkat stres ayam akan berkurang. “Penyebaran penyakit oleh vaksinator yang selalu berpindah-pindah farm juga bisa diminimalisir,” imbuhnya.

Sanitasi dan Air Bersih

Kalau asupan pakan, baik vitamin dan imbuhan dirasa sudah pas, program vak sinasi dan biosekuriti juga sudah diterap kan, jangan lupakan air yang mempengaruhi performa ayam. Semuanya tidak akan berjalan lancar tanpa dukungan sanitasi dan kualitas air yang baik. Kon taminasi mikroorganisme bisa saja terjadi di semua titik produksi.

Untuk itu, sanitasi mesti diterapkan pada semua proses produksi. Rakhmad berujar, nutrisi selalu dipikirkan peternak agar performa ayam optimal. Namun, masih banyak peternak lupa bahwa air minum yang sehat juga menopang tumbuh optimalnya ternak. Air minum merupakan kebutuhan yang esensial sehingga harus diperhatikan. Ia menganjurkan, air minum diberikan perlakuan pengasaman (acidification).

Pengasaman bertujuan untuk mening katkan kinerja enzim dengan menurun kan pH dalam saluran pencernaan. De ngan demikian, pertumbuhan populasi bakteri patogen dalam saluran pencer naan bisa ditekan. “Tiga tahap untuk me ningkatkan performa unggas adalah air minum yang sehat, menekan kadar pH di saluran pencernaan, dan mengontrol per kembangan bakteri di dalam usus,” pungkas alumnus nutrisi hewan UGM Yogyakarta ini.