Categories
Agraria

Antisipasi Penyakit Kala Musim Hujan Datang

Curah hujan yang tinggi selama musim hujan meningkatkan kelembap an di dalam kandang unggas. Kondisi seperti ini memudahkan timbul nya penyakit pernapasan pada unggas. Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, I Wayan Teguh Wibawan, musim hujan turut menimbulkan potensi tumbuhnya jamur atau cendawan.

Contoh yang paling sering ditemukan adalah Aspergillus yang menghasilkan racun afla toksin. Aflatoksin ini dapat menyebabkan kekebalan tubuh ayam pun menurun. Beberapa penyakit pernapasan yang biasa terjadi selama musim penghujan antara lain Newcastle Disease (ND) alias tetelo, Chronic Respiratory Disease (CRD), Coryza, dan Infectious Bronchitis(IB).

Kasus penyakit tidak hanya terjadi akibat agen infeksius, tetapi bisa juga dari yang non infeksius. Menurut Wayan, adanya amonia dan kandang yang lembap dapat meng iritasi saluran pernapasan. “Sel-sel saluran pernapasan terbuka dan agen penyakit lebih mudah masuk ke dalam tubuh unggas,” terang profesor bakteriologi dan imunologi ini saat dijumpai AGRINA di IPB, Bogor (19/1).

Munculnya Penyakit

NLP Indi Dharmayanti, Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLivet) Bogor, se pendapat dengan Wayan, CRD terbilang penyakit yang marak sewaktu musim penghujan. Dari kalangan praktisi peter nakan, H. Dudung Rahmat, peternak asal Bogor, Jabar, juga mengamini, penyakit yang sering disebut ngorok tersebut me mang acap kali ditemukan di peternakan broiler saat curah hujan melimpah.

CRD yang disebabkan bakteri Mycoplasma gallisepticum menular pada suhu lingkungan rendah, kelembapan ting gi, dan kurangnya ventilasi, serta ter lalu padatnya lingkungan ternak. Doktor lulusan Justus Liebig Universitat, Jerman, tersebut, menambahkan, CRD sering di temukan bersamaan dengan penyakit lain, seperti bakteri E. coli, membentuk CRD kompleks.

CRD bisa menyerang ayam pedaging dan petelur. Di samping ngorok, ND dan avian in fluen za (AI) juga turut membayangi ter nak. Ahli virologi ini menyebut, kelembap an menjadi salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuh an mikroorganisme termasuk virus. Daya tahan tubuh unggas sendiri juga berperan terhadap masuknya penyakit. Bila tak cukup asupan pakan dan energi, ayam akan lebih mudah terserang penyakit.

Wayan menuturkan, kondisi hujan terus menerus memicu stres pada ayam. Stres bisa mengganggu asupan pakan (feed intake). Padahal, lanjut dosen FKH IPB ini, spesifikasi pakan harus terpenuhi sebagai sumber energi. “Kalau feed intake tidak masuk, bisa timbul berbagai masalah (pe nyakit). Penyakit ini bukan ditimbulkan langsung dari pakan, tapi karena ayam tidak memperoleh kecukupan energi. Kalau terpenuhi, kemungkinan 70% bisa teratasi,” paparnya.

Sementara itu Rakhmad Syahriadi, Nu tri tionis PT Trouw Nutrition Indonesia men duga, munculnya penyakit pada ung gas diawali dari tertekannya kekebal an tubuh (imunosupresif). “Imunosupresif sering tidak disadari, tahu-tahu produksi turun. Vaksinasi tidak efektif, padahal program vaksinasi jalan terus,” ujarnya.

Penyakit yang menyerang ayam, tam bah Rakhmad, bisa diperparah oleh kua litas dan konsumsi air yang tidak terjaga. Pakan berkualitas tanpa didukung asup an air yang minum bersih mengakibatkan pakan tidak terserap dengan baik. Bakteri seperti E.coli dan Salmonella yang ter kan dung di dalam air sangat memungkinkan terbawa ke dalam tubuh ayam.

Biosekuriti dan Vaksinasi

Seringan apapun penyakit pada ayam kalau tidak ditangani dengan baik akan memicu penyakit lain yang bisa berujung kematian. Wayan menggarisbawahi, ayam-ayam muda lebih mudah tergang gu mikroba. Untuk itu, anak ayam memer lukan penghangat (brooding).

Brooding yang baik akan menentukan pertum buhan ayam pada masa awal. Penyerapan kuning telur ke dalam tubuh ayam me nambah energi dan menghindari terja dinya omphalitis (radang pusar). Untuk mengurangi stres pada ayam, lu lus an kedokteran hewan IPB ini menya rankan, sebaiknya ayam diberikan asupan yang mengandung preparat penopang fung si hati.

Preparat-preparat seperti kur kumin, karnitin, dan sorbitol, serta vitamin E dan selenium dapat dipilih sebagai antistres. Berikutnya, Wayan turut menyoroti pen tingnya penerapan biosekuriti yang ketat.

Berdasarkan pengamatannya di lapang an, peternakan broiler dan layer tidak me nerapkan standar biosekuriti yang sama. Rakhmad pun membenarkan, bioseku riti yang ketat masih belum banyak dilak sanakan. Seharusnya, lalu lintas keluar masuknya orang ke farm bisa lebih dike tatkan. “Akan bahaya lagi kalau dalam se hari orang itu berpindah-pindah farm. Mobil pengangkut dan tempat telur juga bisa berperan,” imbuhnya.

Tidak kalah pentingnya adalah keber hasilan vaksinasi. Wayan mengingatkan, hendaknya peternak mengecek kembali titer hasil vaksinasi. Soalnya, bisa saja terjadi ketidaksempurnaan pelaksanaan vaksinasi sehingga titer antibodi tidak merata dalam satu populasi ayam. Pada musim seperti ini, kekebalan penyakit penyakit respirasi ada baiknya dicek melalui laboratorium.

Masih tentang vaksinasi, Ayatullah M. Natsir, Technical & Marketing Manager PT Ceva Animal Health Indonesia menge mukakan, optimalisasi vaksinasi broiler bisa dilakukan sejak masih di hatchery. Menurut Ayat, vaksinasi dari hatchery memberikan kekebalan lebih awal dan kualitas vaksinasi lebih optimal. Pada pe ternakan broiler modern, ayam dikon disikan untuk berkembang dan tumbuh sangat cepat.

Waktu di kandang menjadi singkat sehingga ayam sensitif terhadap penyakit dan stres. Dengan hatchery vak sinasi, tingkat stres ayam akan berkurang. “Penyebaran penyakit oleh vaksinator yang selalu berpindah-pindah farm juga bisa diminimalisir,” imbuhnya.

Sanitasi dan Air Bersih

Kalau asupan pakan, baik vitamin dan imbuhan dirasa sudah pas, program vak sinasi dan biosekuriti juga sudah diterap kan, jangan lupakan air yang mempengaruhi performa ayam. Semuanya tidak akan berjalan lancar tanpa dukungan sanitasi dan kualitas air yang baik. Kon taminasi mikroorganisme bisa saja terjadi di semua titik produksi.

Untuk itu, sanitasi mesti diterapkan pada semua proses produksi. Rakhmad berujar, nutrisi selalu dipikirkan peternak agar performa ayam optimal. Namun, masih banyak peternak lupa bahwa air minum yang sehat juga menopang tumbuh optimalnya ternak. Air minum merupakan kebutuhan yang esensial sehingga harus diperhatikan. Ia menganjurkan, air minum diberikan perlakuan pengasaman (acidification).

Pengasaman bertujuan untuk mening katkan kinerja enzim dengan menurun kan pH dalam saluran pencernaan. De ngan demikian, pertumbuhan populasi bakteri patogen dalam saluran pencer naan bisa ditekan. “Tiga tahap untuk me ningkatkan performa unggas adalah air minum yang sehat, menekan kadar pH di saluran pencernaan, dan mengontrol per kembangan bakteri di dalam usus,” pungkas alumnus nutrisi hewan UGM Yogyakarta ini.